october 2002 film-film pilihan dari Iran koordinator >> Ekky Imanjaya <eimanjaya@yahoo.com> | | sabtu 12 oktober 2002 | 16:30 And Life Goes On 1992, Bahasa Persia, Teks Inggris Sutradara/Skenario: Abbas Kiarostami Starring: Farhad Kheradmand, Puya Pievar
"Orang lebih menghargai kehidupan setelah melihat banyak kematian. Orang lebih menghargai kesehatan setelah melihat berbagai penyakit yang menimpa sesamanya," demikian sepotong dialog dari film And Life Goes On, karya Abbas Kiarostami. Walaupun berbagai bencana datang, tetapi kehidupan dari orang-orang yang selamat harus tetap berjalan dan hidup lebih dihargai. Film produksi 1992 ini menyodorkan sebuah kasus dimana penonton harus mengais sendiri makna kehidupan dari berbagai bencana yang menimpa para tokohnya. Film yang juga dikenal dengan judul Life and Nothing More ini pernah diputar di Pekan Film Iran di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail beberapa tahun lalu. Film berdurasi 108 menit ini tergolong unik. Pertama, penonton dibiarkan sendiri menebak hikmah yang terkandung di dalamnya. Sang sutradara tidak mau menyingkap seluruh pesan yang ingin disampaikannya. Sedemikian rupa, sehingga yang menginginkan film transparan atau gampang ditebak akan merasakan kebosanan, bahkan bisa jadi tertidur. Terlebih lagi bila penonton belum membaca sinopsisnya. Berbagai percakapan dan bahasa gambar diungkapkan, tetapi pesan masih harus diterjemahkan sendiri. Kedua, film ini seolah-olah adalah dokumenter dari film Abbas tahun 1989, Where is The Friend's Home. Praktis tokoh utama dalam film ini mewakili dirinya, dan anaknya, dalam rangkaian mencari aktor cilik pemeran utama filmnya itu. Film dimulai dari seorang ayah dan anaknya yang hendak menuju daerah tempat terjadinya bencana gempa bumi di Iran Utara, tahun 1970. Dia bersemangat ke daerah tersebut, karena daerah itu dulunya adalah lokasi pengambilan gambar filmnya. Namun, tujuan utamanya adalah ingin mencari tahu nasib aktor cilik dalam film sebelumnya, Ahmad Ahmadpour. Maka, seperti karya Abbas lainnya, perjalanannya itu menjadi sebuah kisah yang mendalam dan filosofis. Setibanya di sana, yang terlihat hanyalah rumah dan gedung yang rata dengan tanah, dan kesedihan para penduduknya. Tetapi mereka menyadari, bahwa meskipun banyak kehancuran dan korban jiwa, hidup harus terus berlangsung. Mereka juga menjadi lebih menghargai kehidupan. Film yang banyak mendapat pujian para kritikus ini dibintangi oleh Farhad Kheradmand, Puya Pievar, dan dibantu penduduk kota Rudbar dan Rostambad. 19:00 Kelid (The Key) Sutradara: Ebrahim Forouzesh Skenario : Abbas Kiarostami Starring: Mahnaz Anasrian, Fatemeh Asar, Amir Pourhassan, Emad Taheri Film peraih Best Children's Film- Berlin Film Festival. Skenario digarap oleh raksasa sineas Iran, Abbas Kiarostami. Seperti film anak-anak yang ditulis Kiarostami, misalnya The White Balloon, film ini berkutat tentang beberapa masalah secara mendetail. Dikisahkan Amir Muhammad yang berusia empat tahun ditinggal belanja oleh ibunya. Adiknya yang masih bayi dititipkan disana. Mampukah seorang anak kecil tanpa orang tua, dan dititipkan seorang bayi kecil, menangani segala situasi? Bagaimana bila sang bayi menangis minta susu? Bagaimana caranya meminta tolong? Dengan latar belakang rumah susun, separuh terakhir film ini berkutat seputar pencarian Amir terhadap kunci rumahnya. Kerap dijuluki Home Alone dari Iran. | | sabtu 05 oktober 2002 | 16:30 Rang-e Khoda (The Colour of Paradise, Majid Majidi, 1999) 1 jam 25 menit. bahasa Parsi, teks Inggris
Karya Majid Majidi setelah Children of Heaven dan sebelum Baran. Berkisah tentang seorang bocah 8 tahun bernama Mohammed yang buta dan disekolahkan di Sekolah khusus Orang Buta. Saat liburan tiba, semua murid dijemput orang tuanya masing-masing untuk berlibur di rumah, Mohammed menanti harap-harap cemas akan kedatangan ayahnya, Hashem. Setelah menanti berjam-jam--yang diisi dengan sejumlah aktivitas yang memaparkan keindahan pegunungan di Iran, sang ayah datang. Awalnya, sang ayah tidak bermaksud menjemput, tetapi meminta guru disana untuk menerima Mohammed tinggal selamanya. Tetapi usulan itu ditolak,dan terpaksa sang ayah mengajak Mohammed pulang.memang, bagi sang ayah, Mohammad hanyalah beban, apalagi dia ingin menikah lagi. Tentu saja anak buta adalah sebuah hambatan Akhirnya, Mohammed yang buta namun mempunyai indra penciuman dan pendengaran yang peka itu dibuang ke rumah neneknya di pedesaan. Disana dia berkumpul kembali dengan kedua adiknya.saat ingin menikah, Mohammed diungsikan lebih jauh lagi. Tetapi, adaptasi Mohammed dengan alam sekitar membuatnya 'mampu melihat keindahan Tuhan'. 19:00 Ayneh (The Mirror, Jafar Panahi, 1997) 1 hr. 34 min. bahasa Parsi, teks Inggris Satu lagi karya Jafar Panahi yang kental dengan neorealisme dan movie road. Kisahnya sebenarnya sederhana, melihat seorang anak sekolah pulang sendiri untuk pertama kalinya. Petualangan mencari jalan sendiri itulah yang dieksplorasi Panahi. Mina Mohammadkhani, gadis cilik yang tangannya dibalut perban, pulang sekolah. Tetapi orang tuanya yang biasanya menjemputnya tak kunjung datang. Akhirnya, untuk pertama kalinya, Mina pulang sendirian. Yang diingat hanyalah visual, rumahnya dekat dengan monumen atau mobil ayahnya berwarna putih, dan sebangsanya. Mina tidak tahu nama jalan atau apapun. Tetapi ada hal yang mengejutkan di tengah-tengah film ini. Mina, yang tengah berakting, tiba-tiba ngambek dan tidak mau melanjutkan main film. Mina langsung pulang sendiri menuju rumahnya, dan membuat semua kru film kalang kabut. Sang sutradara langsung mengambil inisiatif untuk membuat film dokumenter kepulangan Mina. Akhirnya, film ini menunjukkan ternyata perbedaan antara fiksi dengan realitas begitu tipis, bagaikan memandang cermin. | | jika anda punya koleksi film pribadi yang ingin dipertontonkan kepada sesama pencinta film-pilihan melalui Kine-DUA8, silakan hubungi Farishad (Echa) Latjuba rogha@layarperak.com atau Nani Buntarian gedungdua8@cbn.net.id |
|