   semua gambar yang ada di halaman ini merupakan reproduksi dari benda-benda yang terdapat di galeriMbis gedungDUA8 imaji-imaji orang Asmat di halaman ini merupakan improvisasi dari foto-foto karya Dea Sudarman yang terdapat di galeriMbis gedungDUA8
| Masyarakat Asmat mendiami bagian timur daerah pesisir selatan Irian Jaya, suatu dataran rendah yang dialiri oleh banyak sungai dan terendam rawa-rawa yang tidak berbatu. Sebuah desa Asmat biasanya dimukimi 100 hingga 2.000 penduduk. Di pesisir, desa-desa dibangun sepanjang sungai. Rumah-panjang kaum lelaki (yeu) yang berukuran 50 sampai 90 meter dan rumah-rumah keluarga berdiri dengan kaki dua meter. Kelompok-kelompok kecil suka hidup di pedalaman, bukan di tepi sungai melainkan di tengah hutan. Mereka hidup di rumah-rumah panggung setinggi 10 meter lebih atau di rumah-rumah pohon. Kepala suku adalah sosok panutan utama. Kedudukan terhomat itu biasanya diperoleh dari kepribadian, kecerdasan serta perilaku yang ditunjukkan di segala segi kehidupan. Masyarakat Asmat, yang berjumlah sekitar 40.000 jiwa, mengelompokkan diri atas dasar bahasa dan dialek, juga adat-istiadat. Ada kalanya satu bahasa berlaku hanya di dua atau tiga desa saja. Dalam pengelompokan bahasa, masyarakat Asmat terbagi menjadi tiga kelompok adat: Asmat pesisir baratdaya, Asmat Teluk Kasuari dan Asmat hulu sungai. Masyarakat Asmat di pesisir memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu dan meramu. Mereka samasekali tidak berkebun atau memelihara ternak. Mereka yang hidup di kaki gunung memelihara ternak, tetapi dalam jumlah kecil. Mereka juga menanam ubi, tebu, pisang, dan tembakau seperti suku-suku Asmat pegunungan. Sagu tidak tumbuh liar dalam jumlah besar sehingga harus dicari sampai ke hilir atau ditanam sendiri. |   |