 semua gambar yang ada di halaman ini merupakan reproduksi dari benda-benda yang terdapat di galeriMbis gedungDUA8 imaji-imaji orang Asmat di halaman ini merupakan improvisasi dari foto-foto karya Dea Sudarman yang terdapat di galeriMbis gedungDUA8

| 
Masyarakat Kamoro berjumlah sekitar 22.500 jiwa dan hidup di bagian timur pesisir selatan Irian Jaya bersebelahan dengan masyarakat Asmat. Tanah Kamoro melintang 300 km mulai dari Teluk Etna kemudian melebar menuju arah timur hingga daerah yang berada di antara sungai-sungai Owap/Sumapro /Cemara dan sungai Jets. Masyarakat Kamoro menyatakan bahwa tanah asal-usul mereka terletak di daerah Agimuga, di ujung timur. Batas tanah bagi masyarakat Kamoro secara turun-temurun ditentukan atas asas taparo (garis keluarga). Sebuah desa menghimpun dua hingga sembilan taparo Kini terdapat kurang-lebih 40 desa di tanah Kamoro, yang kebanyakan dijumpai di bagian barat pesisir laut Arafura. Di bagian timur, desa-desa umumnya dibangun di pedalaman karena terbatasnya tanah pemukiman di pantai yang lebat ditumbuhi tanaman bakau. Dewasa ini dijumpai beberapa dialek (logat) Kamoro yang memiliki perbedaan-perbedaan dalam melafalkan kata-kata dari orang ke orang dan desa ke desa. Dialek Kamoro yang paling umum terdapat di bagian tengah dan barat. Masyarakat Kamoro hidup setengah-kembara sambil berburu, menangkap ikan dan meramu. Ma kanan pokok adalah sagu dan ikan. Perempuan dewasa mencari makanan di seputar pemukiman dan membawanya pulang pada sore hari. Lelaki berburu dengan tombak atau panah. Jika merantau lama, mereka membangun pondokan daun pandan yang disebut kapiri kame. Hingga saat ini masyarakat Kamoro tetap memakai perahu kayu dan perangkat alami untuk bertahan hidup. |  |