galeriMusim | gratis untuk umum | free admission 
ruang-cerita keseharian beragam masyarakat adat di Indonesia
dailyware collections from various indigenous peoples in Indonesia 



10:00 - 17:00 everyday except sundays + mondays + public holidays  

masyarakat adat Dayak

 

"Orang dayak", yang berarti "orang pedalaman", bukanlah nama asli kumpulan suku-suku di Kalimantan melainkan sebuah julukan yang dipakai oleh masyarakat yang tinggal di pesisir. Julukan inilah yang akhirnya digunakan oleh umum. Jumlah mereka  sekitar 3 juta jiwa.

english web references on the Dayaks >> site-1 | site-2 | site-3

masyarakat adat Mamasa-Toraja

 

Mamasa diambil dari nama sebuah sungai di Sulawesi dan Toraja diambil dari kata Bugis ‘to-ri-aja’ yang berarti ‘orang dari gunung’ atau ‘orang dari pedalaman’. Populasi: 100.000 jiwa di empat wilayah di kabupaten Polewali-Mamasa, suatu pegunungan yang berada 2.500-3.000 meter di atas permukaan laut. 

english web references on the Mamasas  >> site-1 | site-2 | site-3
 

masyarakat adat Bajau

 

Masyarakat Bajau sehari-hari hidup di atas leppa (rumah-rumah perahu) sebagai suku kembara di lautan bebas. Seorang tua Bajau berkias: “Kami berasal dari laut, di darat kami tidak bahagia...seperti ikan yang harus tinggal di darat.” Dengan kemampuan alami bertahan lama di dalam air saat menyelam, orang Bajau mengumpulkan hasil laut dari berbagai kedalaman, mulai dari teripang hingga mutiara.

english web references on the Bajaus >> site-1 | site-2
 

masyarakat adat Sumba

 

Orang Sumba kini ditaksir 500.000 jiwa, sebagian besar bermukim di belahan barat yang lebih subur. Di dalam tatanan adat, ternak sapi dan kuda, juga sawah-sawah, hanya boleh dimiliki oleh sekelompok kecil kalangan ningrat. Kuda dianggap lambang kesetiaan tertinggi. Seekor kuda pilihan dinobatkan sebagai njara madewa (kuda sehidup-semati) dan harus ikut mati saat majikannya meninggal dunia.

english web references on the Sumbanese >> site-1 | site-2 | site-3
 

masyarakat adat Timor

Timor Barat dimukimi oleh sekitar 12 suku asli dan yang paling besar jumlahnya adalah masyarakat adat Atoni (600.000 jiwa) atau kurang-lebih separuh keseluruhan penduduk Timor Barat. Bahasa Atoni hampir sepenuhnya menguasai bagian barat Timor dan orang Atoni juga disebut “orang Timorese” atau “Uap Meto”. 

english web references on the Timorese >> site-1 | site-2 | site-3
 

masyarakat adat Lamalera

 

Lamalera adalah nama sebuah kelompok adat kecil yang memiliki empat buah desa di pantai selatan pulau Lembata, satu dari sekumpulan pulau kecil di ujung timur pulau Flores. Di dunia, orang Lamalera dikenal sebagai masyarakat adat terakhir yang masih berburu paus secara tradisional, hanya hanya dengan perahu kayu dan tombak garpu alami. 

english web references on the Lamalerans >> site-1 | site-2 | site-3
 

masyarakat adat Tanimbar

 

Orang Tanimbar (65.000 jiwa) hidup di sebuah gugusan yang terdiri dari sekitar 60 pulau kecil di selatan Maluku. Perahu adalah andalan hidup mereka. Karya asli orang Tanimbar adalah raa, perahu adat yang dibuat dari satu batang kayu utuh dan dirancang untuk bisa berlayar dan bisa didayung. Raa dihias dengan sayap-pengimbang yang menjulang serta ukiran-ukiran pada badan perahu.

english web references on the Tanimbarese >> site-1 | site-2 | site-3
 

masyarakat adat Kei

Kepulauan Kei di ujung tenggara kepulauan Maluku terdiri dari pulau Kei Besar dan pulau Kei Kecil. Terdapat 100.000 orang Kei yang tersebar di sekitar 300 desa. Mereka juga disebut orang Kai atau Evav. Namun logat di Kei Besar berbeda dengan logat di Kei Kecil. Masyarakat adat Kei mempunyai kearifan tersendiri dalam mengelola sumber alam, yakni suatu tata-krama hubungan dengan alam yang disebut sasi. 

english web references on the Keis >> site-1 | site-2
 

masyarakat adat Kisar + Leti

 

Suku Kisar di Maluku pada hakekatnya adalah petani. Lebih dari 80 persen hidup dari tanah lahan yang umumnya ditanami jagung. Mereka memiliki kearifan tersendiri dalam menghadapi tantangan iklim setempat yang seringkali memberi curah hujan dan terik matahari yang berlebihan. Kearifan ini terwujud pada cara memilih bibit, meramal cuaca, menjaga kesuburan tanah, menyimpan panen dan mendaur-ulang ampas.

english web references on the Kisars >> site-1 | site-2
 

masyarakat adat Teluk Cenderawasih

 

Beberapa masyarakat adat hidup berdampingan di Teluk Cenderawasih, taman laut nasional di ujung barat Papua. Ada sekitar 10.000 penduduk asli, di antaranya suku Yaur dan suku Wandamen atau Wamesa. Di teluk seluas 1.450.000 hektar ini ditemukan banyak jenis hewan terlindung seperti burung cenderawasih, lumba-lumba berpunguk, dugong (ikan duyung), penyu hijau dan penyu berparuh.

english web references on the Dayaks >> site-1 | site-2
 

masyarakat adat Sentani

 

Sentani adalah danau seluas 9.360 hektar pada ketinggian 75 meter di atas permukaan laut. Di kampung Asei, yang letaknya tidak jauh dari danau, bermukim masyarakat adat Sentani. Mereka mengembangkan seni lukis maro pada lembaran serat kayu yang digunakan sebagai bahan pakaian maupun hiasan dinding. Lukisan maro menggunakan motif-motif adat yang penuh makna.

english web references on the Sentanis >> site-1 | site-2 | site-3
 

masyarakat adat Mek

Masyararakat adat Mek menyebut diri Me, artinya ‘makhluk manusia’. Nama ini diyakini lebih pantas, karena dalam kepercayaan adat manusia diciptakan oleh sang maha dewa dan dibedakan dari tanaman dan hewan. Orang Mek tinggal di pegunungan yang memiliki salju abadi di tengah Papua. Ditaksir ada 20.000 orang Mek yang masih tinggal di tanah leluhur. Akibat berkurangnya persediaan tanah lahan, banyak orang Kei pergi merantau.

english web references on the Meks >> site-1  
 

masyarakat adat Korowai

Masyarakat adat Korowai dijuluki "orang pohon" karena selalu membuat rumah yang bertengger di atas pepohonan. Tingginya bisa mencapai 20-30 meter dari permukaan tanah. Satu-satunya upacara besar yang mereka rayakan bersama adalah Pesta Ulat Sagu, yakni saat ada syukuran untuk sebuah rumah-pohon yang baru dibangun. Dewasa ini masih bertahan hidup sekitar 750 orang Korowai di daerah rawa-rawa bagian selatan Irian Jaya.

english web references on the Korowais >> site-1 | site-2 | site-3
 

masyarakat adat Lani + Dani

 

Suku-suku Dani dan Lani dinyatakan sebagai masyarakat adat yang pertama kali bermukim di pedalaman Papua. Terdapat sekitar 200.000 warga suku Dani dan Lani di Lembah Baliem. Wamena. Kearifan mereka mengelola curah hujan dalam mengairi lahan-lahan pertanian hingga kini menjadi kekaguman kalangan peneliti dunia. 

english web references on the Danis/Lanis >> site-1 | site-2 | site-3
 

lorong lukisan gua Kokas-Goras

 

Di teluk Berau, Papua, ditemukan lukisan batu karang purbakala di dalam gua-gua yang berderet sepanjang 30 kilometer, mulai dari desa yang dinamakan Kokas di barat hingga desa Goras di timur. Tercatat sebanyak 36 lokasi lukisan. Belum bisa dipastikan berapa usia lukisan-lukisan purba itu, yang berupa ragam simbol dan figur berwarna merah, hitam dan putih.

english web references on rock paintings in Indonesia  >> site-1
 

images are taken from illustration photographs by Dea Sudarman at galeriMusim - gedungdua8

<< back